Rabu, 15 Januari 2020

TOXIC SINGLE MOM ??? IS THAT SCARY??? TOXIC FAMILY ga ada apa-apanya PART 3

Karena Part 1 dan 2 udah banyak mengeksploitasi cerita pribadi, sebelum kulanjutkan ke cerita pribadi yang memang belum selesai, kali ini mau kufokusin dari pembahasan toxic single mom yang udah kupelajari dan kuamatin dari pengalaman pribadi juga.

Yep, inilah yang kualami. Kadang iri kalau lihat orang lain yang memiliki ibu yang support. Tapi justru sering kudengar kalo mamaku yang sok sokan merasa dirinya orang paling malang sedunia karena ga bisa dekat dengan anak sendiri. Kadang juga pengen kujawab, "Ngaca Bu".

Orang lain yang kenal pasti pikirnya, Yossi enak ya mamanya sayang, mau ngemodalin, inilah itulah. Padahal mereka ga tau gimana struggle nya aku sendiri. Atau banyak juga yang berpikir, ah enak banget jadi dirimu, duit ada dan apa apa siap. Kenapa sih ga mau nurut aja sama mama mu? Padahal mereka ga tau gimana tekanan batin diriku. Terkadang aku iri sama orang yang merasa masalah terberatnya itu cuma masalah duit. Karena uang bisa dicari, tapi masalah trust issue, comfort zone dan masalah kepercayaan diri kalau sudah hilang, mau kamu punya duit ga abis abis 7 sampe 7000 turunan sekalipun juga ga akan selesai.

Kurang lebih kesepuluh cara tersebut yang udah kucoba lakukan. Meski aku ga bilang semuanya sukses. Dan akhirnya masih terjebak di lingkaran setan ini lagi setelah aku mencoba excuse dan pulang dengan alasan mau peduli dengan my toxic mom. Hati ini kadang capek loh urusin hidup. Karena memang bener bener makan hati πŸ˜”Tapi ya harus dijalani karena sudah pilihanku sambil berdoa kapan hal ini selesai, meski mungkin selesai dengan hal terburuk, jadi anak yatim piatu.

Teman-temanku pasti banyak yang kira begitu enaknya hidupku, kerjaannya mbolang. Tapi kok sukanya mbolang sendiri? Itu karena mereka ga akan pernah tau kalau aku mbolang sebagai pelarian dan obat. Kenapa? Karena setiap mbolang aku ketemu hal baru, ketemu orang baru yang mungkin bisa lebih malang dari nasibku dan itulah yang membuatku termotivasi untuk bangkit dari keterpurukan kalau sudah benar-benar ngerasa down.

Memang dalam hidup, kehidupan ini tidak pernah adil, Tapi Tuhan selalu adil. Sama seperti, mau bagaimanapun terlihat sempurnanya hidup seseorang, tetapi setiap orang selalu punya masalah. Banyak orang yang tanya, kok suka ya mbolang sendiri? Bahkan mamaku suka nanya kenapa ga pernah mau liburan bareng? Sebenarnya pengen jawab if I'm quit and please count me out. Gimana mau menikmati liburan kalau situasi nya ga bagus dan buat tertekan?

Sumber : Google

Itu tanda-tanda toxic mom dan banyak diantaranya yang kualami. Jujur karena telat kenal dunia luar, aku akui selama masa kuliah pun aku kesulitan bergaul karena terlalu terkekang sebelumnya. Rasanya mau bergaul pun sulit sekali dan banyak rasa tidak nyaman karenanya. Jadi kalau kalian punya teman yang susah, selama susahnya dia lebih ke saklek, punya kemauan keras, selama ga mencuri atau fitnah, bisa jadi itu karena lingkungan keluarganya toxic.

Sumber : Tirto.id

Secara gamblang sebenarnya di rumah, entah udah beribu kali mama selalu bandingin diriku sama adik ku sendiri. Ya mungkin karena anak laki-laki lebih cuek dan bodo amat, tapi anak perempuan itu berbeda. Sering kok adik ku itu curhat gimana keselnya dia, tapi memang dasar laki-laki itu lebih gampang bersikap bodo amat. Sedangkan diriku memang sudah ditakdirkan bersikap kritis. Jadi dianggapnya diriku anak pembangkang dan arogan. Padahal, bisa kalian nilai sendiri kalau kalian dengar dari dua sisi.

Tapi dari pengalamanku, cukup banyak merubah diriku untuk dengar cerita dari dua sisi terlebih dahulu baru mengambil kesimpulan. Kecuali kalau ketangkep basah setelah pengamatan beberapa waktu lamanya. Ya ibarat hikmah dibesarkan di lingkungan toxic. Sebenarnya bukan hikmah juga sih, cuma berusaha menghibur diri aja sebenarnya 😜.

Aku memang ga pernah nikah ataupun jadi orang tua, tapi kalau boleh saran saya mau kasih masukan untuk parents wanna be atau spouse wanna be diluar sana. Pastikan kalian benar benar siap mental dan sikap sebelum memutuskan untuk punya anak. Persetan sama omongan orang, mohon kalian pikirkan lagi jangka panjang. Punya anak itu tanggung jawab seumur hidup dan amanat dari Tuhan. Tolong jangan korbankan anak cuma buat menyenangkan dirimu dan orang tuamu doang yang pengin nimang cucu. Kalau mau nimang bayi? Banyak noh diluaran bayi yang terlantar dan butuh dirawat. Kalau dari yang kualami, jujur mamaku maksa aku cepet nikah, punya anak dan mamaku cepet nimang cucu tapi aku ga lakuin itu kenapa? Dipikir punya anak itu sama kaya punya boneka?

Beneran karena sepanjang hidup sampe sekarang, banyak ketemu hal ga enak tentang kehidupan setelah nikah, belum masalah konflik sama mertua, masalah lagi kalau ternyata mandul. Aku pun takut kalo harus berumah tangga. Belum Siap. Tapi kalau lingkungan keluarga toxic sih mana peduli? Mereka cuma mau nya mereka jangan sampe diomongin orang lain doang. Udah, concern mereka cuma itu. Padahal kehidupan setelah menikah justru lebih mengkhawatirkan dan penuh tantangan. Jangan liat enak nya kehidupan pernikahan di instagram yang indah indah. Kalian ga pernah akan temuin banyak kejadian miris di instagram, karena memang udah kodratnya instagram itu cuma tempat pamer doang. Percaya, kalo kalian memang ditakdirkan tumbuh dalam lingkungan toxic apalagi punya orang tua toxic, mending kalian belajar dulu sampai bisa benar benar memastikan kondisi sudah kondusif sebelum memutuskan punya anak kalau kalian benar-benar mau memutuskan rantai toxic cuma sampai kalian aja.

Yang kualami, mencoba berdamai dengan lingkungan toxic itu benar-benar pergumulan besar sampai detik ini. Gimana bersikap bodo amat dan hanya berusaha untuk selfcare itu ga segampang tulisan di instagram yang seliweran. Kadang dalam hati udah tekad tapi kenyataannya gatot, sudah biasa. Memang sih keluarga toxic udah jelek dampaknya, terus gimana kalau toxic mom? Ya seperti diriku ini lah kurang lebih. Makan hati tiap hari, kesepian, butuh kasih sayang dan susah banget kalau mau benar-benar percaya sama orang karena jujur sampai sekarang masih dihantui rasa takut untuk dikecewakam lagi karena mama sendiri aja rajin mengecewakan dengan selalu play victim ke orang orang tanpa sebab dan orang lain mendukung untuk ikut menjudge. This is so that scary and this is true. Mau nangis pun rasanya air mata udah kering, karena udah terlalu lama.

Kalau sharing pas pertemuan gereja, mereka cuma saranin doa, terus doa terus doa, sampe kiamat pun doa. Itu ga salah, tapi ingin juga kutanya balik, memang doa itu salah satu jawabannya, tapi apa kalian akan berlaku sama kalau diposisiku? Terkadang gampang untuk memberi saran tanpa empati. Atau yang cuma jawab sabar, sabar dan sabar. Ya emang aku kurang sabar apa lagi? Masih melanjutkan hidup aja itu udah bentuk kesabaran yang hakiki loh. Karena kalau sudah ga sabar, mungkin aku udah ga ada lagi di dunia ini. Tau kan kasus kena banyak public figure yang bunuh diri? Sudah pelajarin kenapa mereka bunuh diri? Rata-rata mereka melakukan hal itu karena mereka ga kuat sama keadaan dan lingkungan.

Kadang aku kepikiran sama omongan mamaku yang selalu direpitisi
Dosa apa aku, punya anak kok ga ada hormatnya sama orang tua?

Ingin kujawab
"Nggak Mau Ngaca?"

Jujur berkali kali aku kelepasan suka pukul mantan-mantanku pas masih jadi pacar, itu karena memang dari kecil bentuk kekerasan fisik udah jadi makanan sehari-hari dari mamaku. Ya dipukul, dicubit, di kurung di wc sampe disiram air dingin tengah malam juga sering. Masalahnya? Nilai pelajaran turun, ga sesuai ekspektasi mama yang harus aku nilai tinggi sampe akhirnya aku merasa ga berguna dan punya ketakutan sendiri kalau dapat nilai jelek. Beda sama adikku yang dari kecil ga pernah tau rasanya dipukul cuma karena nilai turun 1 poin atau dikurung di wc sambil diguyur air dingin cuma karena sempat ada satu pelajaran yang nilainya hancur? Jadinya memang beda. Adikku lebih santai, ga punya beban hidup dan perasaan denial dan takut dengan dunia luar meski dia pun tetap pusing juga punya orang tua toxic. Cuma dia sih lebih woles.


Papaku dulu, memang tipe papa yang sayang banget sama anak-anaknya. Tapi papa kalah power sama mama. Itu yang ngebuat mama ku yang toxic begitu dominan buat menyiksa anak. Tapi jujur waktu papa masih hidup, papa masih bisa sedikit jadi barrier dari bar-barnya mama. Cuma memang tidak sempurna. Sekarang papa sudah ga ada, berasa banget gimana hancurnya hati ku kalau tiap ribut sama mama dan difitnah macam-macam kedepan semua orang dan tidak ada yang peduli.

Secara ga sadar karena cerminan dari keluarga, aku pun dulu selalu cari pacar yang bisa nurut kaya papa dan gampang banget buat main fisik dan ga bisa menghargai pacar. Kupikir dulu apa yang kulakukan itu normal karena itulah potret yang digambarkan dari mama papaku. Aku sempat bingung kenapa papa selalu ga setuju kalau aku kenalin mantan mantanku dulu dan malah justru papa suruh aku cari pacar yang bisa mengayomi dan bukan asal nurut aja. Memang seserem itu guys, makanya kalau buat yang berniat atau sudah punya anak. Ingat, anak kalian berlaku itu adalah cerminan yang kalian tunjukkan ke mereka. Orang tua dianggap adalah contoh gimana mereka harus berlaku kepada masyarakat.

SHE SAID SHE USUALLY DO EXTREMELY UNLOVING THINGS IN THE NAME OF LOVE EVEN ACTUALLY SHE DOESN'T BUT SHE WILL NEVER KNOW WHAT THE DAMAGE OR HOW GREAT THE DAMAGE FOR HER CHILDREN AND NEVER WANT TO KNOW BECAUSE SHE THINKS ALL SHE ASK ARE THE BEST FOR HER CHILDREN

-Bersambung ke Part 4-

TOXIC SINGLE MOM ??? IS THAT SCARY??? TOXIC FAMILY ga ada apa-apanya PART 2

Buat yang udah paca part 1, mungkin banyak dari kalian yang punya banyak pertanyaan mengenai kisahku ini. Ya karena memang kejadian ini sebenarnya sudah lama namun baru kusadari kalo ini merupakan bom waktu. Maaf kalau ga bisa cerita runut tapi lebih ke maju mundur.

 Sumber : Google

Jadi awalnya kan aku kerja memang merantau 3tahun lah jauh dari kampung halaman. Dan namanya orang kerja merantau dan terikat kontrak, aku ga bisa melulu pulang kerumah dan liat situasi kondisi rumah ini.

Jadi pasca papa meninggal, memang aku hanya bisa dirumah satu minggu, itu pun harus dibayar dengan potongan denda yang lumayan. Dan hampir berapa bulan gitu ga pulang, karena sekalinya pulang pun juga cuma maksimal 2hari dan harus dikejer sama cek gigi behel.

Memang banyak yang berubah pasca papa meninggal. Kebetulan keluargaku punya pembantu yang loyal banget dan sudah kerja puluhan tahun. Tapi pasca papa meninggal, pembantuku pun minta resign pada saat itu. Meski sekarang sudah balik kerja lagi tapi waktu itu mbak ku itu pulang kampung dan ga balik-balik lagi.

Pasca papa meninggal, kepulanganku pertama waktu habis lebaran plus berapa gitu aku agak lupa. Pa kepulanganku itu, aku dikenalin sosok cowo yang jelek, item, ompong, kerdil gemuk dan agak plontos. Mama bilang sih teman kerja, tapi dari awal memang aku ngerasa emang ini orang kayanya agak mencurigakan. Memang sih itu orang awal ketemu aja ngasih amplop duit gitu, lupa jumlahnya berapa karena ga genap kaya 1juta, 2 juta ato berapa.

Menurutku aneh aja, ini orang cuma hubungan kerja tapi sampe amplopin uang begitu dan jumlahnya juga aneh. Terus ini orang juga suka traktir-traktir sekeluarga juga. Maaf si ya, menurutku cuma cowo bodoh yang berlaku begitu kalo ga ada apa-apanya meski ini orang suka berlaku sok polos goblog gitu. Apalagi, gelagat ini orang terkesan kaya ga wajar rekan kerja semata. Tapi ada usaha biar diterima gitu.

Terus ritual kasih uang itu berlanjut hingga tiap kali aku pulang sampai pas pembantuku yang loyal itu balik, disitu aku lihat perbedaan gelagat dan seolah terkesan ada rasa ga suka dan singkatnya setelah aku balik untuk selamanya karena pikirin mau urus mama dikampung. Terkesan ada usaha untuk menjauhiini orang terutama dari mbak ku itu. Dan memang sih aku udah ngecium gelagat ada usaha pdkt dari ini setang blekutak sontong ke mamaku ini. Soalnya kok ga wajar aja gitu ya tapi

Dasar aku yang tingkat kekepoannya tinggi, jadi diem-diem kucari tahu. Kebetulan mama ku bukan orang yang hightech jadi dengan gampang kucari tahu dari watsapp nya juga. Dari nama, diubah jadi inisial terus juga terkesan menutupi. Dan sebenarnya pola begini semacam repeat sih, karena dulu waktu sama yang lain jaman papa masih hidup juga sama sih.

Pas ini orang lagi umroh aja, lagi dikamar hotel vcallan sama mama juga aku tau dan malah ditunjuk tunjukin dengan bangganya. Terus setiap pergi kemanapun pasti laporan sama ini setan macam malaikat jibril aja, apa apa harus dilaporin. Beneran sih, didiemin makin menjadi jadi aja ini nene nene sama kake kake -.-. Maap ye bukannya menghina mama sendiri, tapi coba dilihat kalo posisi kita dibalik. Usia mama ku emang udah pantas disebut oma soalnya. Bukan menghina loh.

Kadang kupikir, buat apa sih rajin ibadah, doa, sok baik ke semua orang tapi di internal sendiri aja kelakuannya buat eneg dan tekanan batin? Apa ini yang disebut contoh konkrit kenapa banyak penipuan diluar sana yang mengatasnamakan agama dan berembel embel kegiatan rohani? Geez, beneran sih ya kurasa Indonesia ini bukan hanya perlu revolusi mental, tapi juga harus revolusi sikap atau kalau perlu ga usah deh bawa bawa agama dan Tuhan. Toh kita semua belum pernah mati, atas dasar apa sok sok rohani ini itu? Kuburan kita aja sendiri-sendiri kan?

Oke back to story, jadi kejadian tersebut berlanjut sampe pas lagi random time dan kutau mamaku sedang asik chattingan ala abg yang lagi pacaran aku pun langsung negur. "Mama ada hubungan apa sih sama om A***?". Terus Mamaku langsung kelabakan dan bengong bentar terus langsung denial. Dari jawaban itu aku udah bisa ngebaca kalo ada yang ga beres sama mereka. Tapi aku diem, sampe akhirnya disuatu waktu aku berhasil mancing pembantu rumahku itu buat  buka suara. Dan ternyata memang luar biasa mamaku yang satu itu πŸ™ŒπŸ™ŒπŸ™Œ. Pengamatanku ternyata tepat. Tapi yang kubenci, kenapa selalu mamaku itu sok malaikat keorang-orang padahal kelakuannya begitu? Apalagi masalah anaknya sendiri? Hobi passionnya itu selalu menceritakan kejelekan anaknya dengan bumbu rendang, alias lebay dan banyak yang bersifat delusi. Kadang bingung, kok hobi ngarang cerita tapi ga mau sekalian jadi penulis gitu biar hobinya sedikit berfaedah? Mungkin ada yang berpikir, kenapa ga bicarain baik baik? Eh, kalau cuma dibicarain baik baik bisa, ga mungkin juga kubahas disini πŸ˜ͺ. PERCUMA. Sampe pernah curhat sama pemuka agama, sampe didoain pemulihan segala macam, tapi ya samimawon alias sama aja. Nangis nangisan, waras sehari terus besoknya ambyarrr lagi.

Itu juga yang buat diriku jadi ga pernah kenal kehidupan diluar rumah. Kenapa? Hati ini ada rasa ga enak, malu dan merasa dijudge sebelumnya dan ngebuat diri ini merasa ga nyaman kalau bersosialisasi. Apalagi memang toxicnya mama ku ini, dia ga pernah biarin diriku bersosialisasi, sebelum melakukan sesuatu sudah dilarang dan diberi sugesti jelek dan sok langsung biar kesannya aku ini anak manja yang ga bisa ngapa-ngapain dan mamaku ini yang paling perhatian sedunia. Jelasinnya agak rempong ya ?πŸ˜‚ Oke kukasih contoh pengalaman hidup ya biar kalian bisa gampang ngebayanginnya:

Pas aku SD, aku iri banget sama teman temanku yang bisa dapat uang jajan sendiri terus dengan bebas jajan di kantin. Pernah kubilang keinginanku, tapi apa jawabannya? "Ngapain, ga sehat, mending dibeliin dan dianterin sama mbak"
Tapi yang dibilang mamaku ke temen-temennya : "Iya yossi belum ada tanggung jawabnya, jadi ga dikasih uang dulu. Lagian nanti juga buat apa jajan sembarangan nanti sakit"
Bayangin itu dibilangnya didepan mukaku persis ke semua orang πŸ˜ͺ. Pas aku denial dan ngambek, eh malah mamaku bilang gini ke temen temennya lagi bahkan hampir ke semua orang : "Anakku mah ngambekan, cepet marah, judes."
Plis deh, aku itu cuma pengen tolong kalo ngomong tolong dibedakan mana yang fakta mana yang delusi. Kalo  dulu masih bocah memang ga sadar, tapi kan memori itu ga bisa hilang gimana rasanya orang lain aka gerombolan emak emak haus gosip diceritain begitu terus ikut ngomongin dan ngejudge. Memang mereka ga bicara verbal, tapi semua itu tersirat di muka mereka. Sampe detik ini aku ga akan pernah lupa muka-muka itu, gimana mereka ngecibir dan gimana mereka menghina karena lambe mamaku dewe (bibir mama ku sendiri). Bukan dendam ini, tapi ini memori jelek yang membekas.

Pengen banget jalan sekedar ke supermarket sama teman-teman pas SD, itupun drama lagi. Aku cuma minta ijin, tapi yang ada malah dimarahin habis habisan dan diomongin berulang ulang dan ga berenti berenti. Sampai aku pun ikutan ngebentak karena kalau ga dibentak ya ga bakal selesai itu omongan :(. Tapi yang selalu mamaku bilang ke semua orang? "Yossi mah judes, ga tau dosa apa aku punya anak berani sama orang tua. Kurang ajar. blablabla"

Mau main ke tetangga, dilarang! Jangan belajar nggosip sama tetangga. Blablabla. Tapi giliran tiap malem minggu ga kemana mana dan cuma dirumah? Apa yang mamaku bilang ke orang? "Ga tau tuh Yossi, ga punya teman. Orangnya susah sih jadinya ga ada temannya". Plis beneran rasanya pengen jedotin kepala ke tembok. Kok kayanya salah terus ya? Hidup aja udah salah kayanya.

Dan kenapa ngomong sesuai fakta aja susah gitu. Ngapain sampe dikasih bumbu-bumbu segala? Dan suka kasih drama yang bersifat delusi? Waktu dulu aku ga ngeh sama sekali perihal toxic family, mungkin karena dasarnya lingkunganku udah toxic dan cuma aku yang menyadari dan mulai denial kepada mereka dan dianggap pembangkang.

Makanya pas udah lulus SMA, cita citaku adalah gimana caranya aku sejauh mungkin dari rumah dan jauh dari orang-orang yang kukenal. Kenapa? Karena aku mau bebas. Mau cari jati diri bukan jadi kucing piaraan terus. Bebas dalam arti bisa nentuin pilihan sendiri. Karena mereka selalu berusaha biar dinilai baik sama orang lain, padahal semua itu palsu dan akhirnya saya yang jadi korban.

Setiap mencoba denial dan berontak, pasti dibuat drama seolah begitu arogan dan sombongnya diriku. Padahal aku berontak untuk menyudahi percakapan yang ga berujung. Dipikir enak apa diomelin berulang ulang kata katanya ga brenti brenti sampe mungkin seumur hidup ga mungkin selesai? Dan selalu setiap ada masalah baru, pasti kesalahan dari jaman jepot diulang ulang dan dibuat seolah aku ini melakukan kesalahan yang fatal beratnya. Pengen teriak, tapi percuma. Cerita sama orang juga percuma karena ga ada satu pun orang didunia ini yang akan paham sebelum mengalami sendiri. Buat kalau ada saudara-saudaraku yang ikut turut baca tulisan ku, I can't control what are you thinking. Aku cuma berusaha jujur cerita ketika dunia serasa udah tuli untuk mendengar atau mungkin sudah ga mau peduli. Mencoba untuk menghasilkan karya disaat penuh tekanan seperti ini.

Back to story lagi deh. Aku tau setelah mamaku jadi janda, banyak yang ngedeketin dari orang india lah yang katanya punya PH di Jakarta, terus ada siapa lah tapi kenapa ini cowo beristri yang buat kecantol πŸ˜₯. Memang banyak orang diluaran sana yang keluarganya dirusak pelakor tapi ya jangan ditiru dong. Masa ibarat mau njebur neraka terus ikutan? Terus aku larang pun juga beralasan, karena aku ngelakuin ini buat keluarga dan aku peduli. Apalagi karma berlaku cepat. Aku cuma ga mau karena kepuasan sesaat terus mama ku bakal kena karma yang jelek. Itulah yang ngebuat aku bener bener nentang hubungan mereka. Sebenarnya disini posisi mamaku salah meski mungkin si cowo yang deketin duluan. Plis, hubungan perselingkuhan itu cuma bisa terjadi kalau kedua belah pihak sama sama mau. Ibarat kita mau beli barang deh, baru terjadi transaksi kalau sama sama deal. Buat posisi cowo, siapa cowo yang ga mau cewe? Ibarat kucing dikasih ikan. Apalagi case yang ini kan emang dari awal cowonya ngarep. Ga tau juga sih kena pelet apa ini soalnya jujur yang kali ini juga bukan seleranya mamaku juga yang kaya biasanya tapi kok malah kecantol gitu.

Sampe pas suatu malem, aku tau mamaku lagi asik telpon telponan sama ini cowo kampret dan udah jam setengah dua belas malem dan langsung ku semprot. "Ma, mama ngapain sih jam segini telpon suami orang? Yossi ga suka, ada hubungan apa sih? Jangan dikira Yosi nggak tau"
Terus ya mamaku langsung membela diri sampe aku kelepasan seperti yang udah kuceritain di part 1. Jujur aku ga bisa kontrol pikiran orang meski itu orang tua sendiri. Tapi aku bingung sih kenapa harus ada yang begini ini. Apa ini pengaruh sama kesiapan mental yang kurang dalam berumah tangga? Udah usia lanjut masalahnya, tapi kayanya umur ga bisa menjamin orang lebih bijak.

Jujur aku bener bener menentang juga selain karena itu setan masih punya istri, gelagat itu orang juga berkali kali seperti mau menguasai rumah dan aset. Karena case ini, aku udah tanya tanya ke orang lain yang memiliki pengalaman serupa dan memang ciri cirinya mirip. Aku takut kalau aku ga nyegah, bisa habis semua harta benda. Karena cewe yang butuh dalam case ini, cowo mana pun pada dasarnya brengsek, apalagi yang punya niatan ga bener kaya ini orang buat selingkuh pasti juga sangat mungkin akan mencari keuntungan. Mamaku bukan muda lagi, bukan seksi lagi dan ga perawatan juga kok bisa dideketin? Apa ada yang bisa kasih jawaban selain cuma ngincer harta bendanya?

Tapi ya memang kalau sudah bawaan toxic, apapun usaha yang kulakukan selalu salah dan selalu diceritakan salah. Tapi orang lain yang sotoy malah bukannya bicara baik baik dan tanya kisah dari pihakku malah ikut ikutan ngejudge. Pengen banget benernya kusumpahin itu orang biar ngalamin posisiku juga. Aku penasaran gimana tindakan dia kalau posisi keadaan dibalik. Apa masih bisa senyum-senyum dan ngejudge atau lebih parah?

Aku ga menyalahkan keluarga atau mamaku sendiri yang toxic, karena aku mencoba berdamai dengan keadaan tapi memang nyesek sih. Makanya itu yang  buatku nulis blog ini, karena dengan tulisan bisa refleksiin uneg-uneg dan lebih lega. Seenggaknya bisa tau dan sharing kalau ga sendirian terlahir di lingkungan toxic bisa sedikit menjadi penenang. Mungkin karena pahitnya kehidupan, aku jadi lebih suka tidur karena tidur dan mimpi lebih indah dari kenyataan πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

 Sumber : Google

Buat pembaca yang beruntung karena ga terlahir di lingkungan toxic, bersyukurlah. Semua orang punya masalah sendiri-sendiri dan tidak ada yang sempurna. Jujur aku sendiri suka iri dengan keluarga sederhana yang bisa bahagia dalam ketidaksempurnaan finansial atau yang dapat melakukan apapun sesuai nurani tanpa dicibir dan dijudge oleh orang lain.

BERSAMBUNG KE PART 3---

Senin, 13 Januari 2020

#SiapalahSayaIni Late Post 5 Tahun Yang Lalu

#SiapalahSayaIni
Saya ini hanyalah seonggok kentang~~

Well, rasanya ucapan tersebut lagi ngehits-ngehitsnya yak?
:v

Oke, dipostingan kali ini, aku bukan bermaksud mau ngebahaas masalah itu hastag atopun mau bahas masalah kentangnya
Tapi tunggu, jujur aku jadi bingung mau bahas apa :v


Oke kita bahas masalah #SiapalahSayaIni ya~~
Tapi bukan hastagnya yang mau aku highlight
Tapi masalah akunya


Iya... Masalah penulis dari blog ini sendiri yang akan aku bahas :v
*plak
*oke, ini emang ajang narsis :3*


Ya sesuai hastagnya
Saya ini memang hanyalah seorang anak remaja putri tsundere *saya masih remaja bro sis, masih 15tahun +ppn :v* dari kota yang terkenal logat ngapaknya dan nekat mengadu nasib di kota metropolitan kedua terbesar seindonesaaa *give applause~~ *dibakar

Tapi, meski demikian, entah kenapa aku selalu dikelilingi oleh orang-orang epic disekitarku
Ga cuma masalah bos, bahkan dari teman kuliah, teman sepermainan, bahkan sampe anak-anak kos pun ga kalah punya keunikan sendiri-sendiri

Terkadang aku malah bingung sendiri yah
Kok bisa aku ini dikelilingi segala macam yang berbau epic
Apakah saya ini terkutuk?
Oh itu mustahil, jelas-jelas saya ini loli dan unyu, jadi mana mungkin terkutuk? Buakakaka *disatesekampung

Oke pertama aku mau nyeritain tentang keluarga aku~~
Aku dilahirkan tahun *biiibbb* sebagai anak pertama dari sepasang suami istri yamg sebelas tahun baru punya anak
Karenanya sejak kecil aku udah kenyang punya mama yang lebay dan takut anaknya kenapa-kenapa

Saking kuatirnya beliau sama anaknya
Sampe-sampe beliau pasang CCTV di sekolah dan dimanapun anaknya pergi *CCTVnya maksudnya mata-mata ye~~
Karenanya, pupus sudah harapanku menghabiskan masa-masa disekolah kaya di pelem-pelem, cinta-cintaan, pacar-pacaran dan jambak-jambakan~~ *oke ini ga penting*

Kehidupan nyata disekolahku jadi dipenuhi belajar-belajar dan belajar, les juga sih :3

Aku harus sabar menghadapi mama ku yang super drama queen dan sanguine abis


Papa aku?
Dia orang yang sangan diem dan cuma ngomong kalo perlu
Itu pun seringnya juga jadi gak jelas *faktor beda jaman mungkin*

Adik aku?
Karena beda usia 11tahun
Jadi dia masih lucu-lucunya dan anggap dia hanya figuran *plak

Tapi yang buat epic itu tuh karena hobi mama ku yang nyentrik

Oke, let say beliau sama kaya anaknya yang cinta banget sama durian dan usus ayam, tapi rasanya gak penting juga kan kalo beliau jadi rajin ke bangkok secara periodik demi makan durian bangkok dengan alasan harganya murah~~

M(Mama) :*Keluar kamar dan nyalain TV diruang tamu*
A(aku) : *Tetep di kamar dan nonton TV*
M : Pin, itu pintunya dibuka *triak*
A : *buka pintu*
P (Papa) : Ngapain kamu liat tv tapi suaranya mati?
M : Nggak apa lah, hemat listrik dan speaker
A&P : ....
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Sekeluarga lagi ke luar kota *kota tetangga sih*
M: Pah, jangan lupa ke mie x ya, makan disana
P : iya
M : *bergumam sendiri* Mie paling enak...ya mie x.. Mie paling enak... Ya mie x

Asli itu gumaman mamaku tuh berasa jinglenya kulit manggis
Dari jaman balita sampe sekarang jadi masih inget terus kan :v
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
A : Ma, ga bosen apa ke Bangkok terus? masa tiap beberapa bulan kesana, padahal ga belanja juga disana
M : Ih, gimana mau bosen sama bangkok? Makanan dan biaya hidup murah.. apalagi bisa makan duren sepuasnya dan tomyum dengan harga murah
A : Emang biaya pesawat pp, nginep, dkk nya ga diitung ma? bukannya sama aja?
M : *Hening* iya juga ya? Tapi enggak ah, tetep enak kalo makan duren bangkok di bangkok
A : ....
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
A : Ma, kan ntar flight pagi, tar aku beliin makan ya
M : Duh, ga usah deh~ ga apa dah mama ga usah makan
*Tapi, karena saya anak berbakti *plak jadinya tetep nekat jam satu pagi beli nasi sambel yang terkenal seantero surabaiia*
A : Nih mah nasinya
M : Kan udah dibilang jangan~ *bla bla bla*
Beberapa jam kemudian~~
*buka hp, liat chat*
M : Pin, Mama dah di tkp, nasi nya mantep, malah kurang tadi kamu beli lima bungkus. Ntar pulang Indo kamu tolong beliin lagi ya
A : ...


Itu kondisi keluarga inti saya, belum masalah keluarga lainnya yang ga kalah buat kokoro ini lelah~~
Tapi biar pada penasaran, mending aku cerita lainnya deh biar bisa buat postingan selanjutnya :v


Selanjutnya, lanjut ke cerita betapa epiknya manusia-manusia yang bernaung di satu kos ku
Yah, karena sebagai orang perantauan



TOXIC SINGLE MOM ??? IS THAT SCARY??? TOXIC FAMILY ga ada apa-apanya PART 1

Hi..hi..
Wah ga berasa ya udah tahunan ga sumbangsih tulisan di blog ini :'(
Maaf kan daku yang terlalu sibuk di realita.
Kali ini aku mau sharing tentang pengalaman pribadi ku sebagai anak yang dilahirkan di keluarga toxic :'(
Sebenarnya, hidupku bahagia saat papa masih hidup. Yep so sad papa ku meninggal hampir 3 tahun yang lalu karena penyakit jantungnya. Nanti kuceritain di postingan selanjutnya perjalananku selama bertahun-tahun ini kemana aja ya, biar ada bahan ngeblog lagi
hehehe

 
Sumber : Pinterest

Sound scary huh?
Yep tapi faktanya begitu :(
Beneran di saat-saat begini, I miss my dad so damn bad and I wish I can swap my dad's grave with my mom's grave.
Mungkin ada aja netijen julid yang bilang : "Ah drama nih, kenapa harus di post, kenapa ga cerita sama internal, blablabla"
Kujawab dulu ya netijen yang maha benar, kalau seandainya aku punya penolong yang bisa berkeluh kesah, udah gua lakuin dari dulu
Ngapain harus ngomong di blog yang ga tau juga aku apa orang lain ikut baca atau cuma aku sendiri yang baca? :(

Kupikir selama bertahun tahun akhirnya aku merantau sendiri, kupikir aku yang terlalu keras dan harus berubah lebih menghargai dan sayang dengan orang tua dengan cara pulang dan mengabdi kepada mama orang tua ku satu satunya sekarang. Tapi, I think I made the worst decision ever.

Sumpah, aku ga pernah berpikiran how toxic my mom is. Sampai sekarang aku ngerasain karena udah ga ada penenang. Dulu pas alm papa masih ada, papa lah yang selalu nenangin aku. Papa yang selalu ada pas aku butuh. But now? I feel empty. Memang bisa doa, tapi nyesek itu ga bohong :(.

Dari kecil, mama memang selalu punya ekspektasi tinggi dan selalu nuntut. Dan setiap diriku berargumen, mamaku langsung lebay dan play victim dan ngomong diulang ulang dengan rekaan semau mau dia aja kesemua orang. Tapi jangankan aku sih, dulu mama hobi kok ceritain kejelekan papaku ke semua orang. Sampe aku inget banget dulu, karena kan mama papa hobi itu berantem sampe hancurin barang-barang dirumah dan aku pernah nanya, kenapa mama ga ceraiin papa aja?

Makanya jujur, aku itu ngerasa drama banget kalau ada orang tua yang tetap bertahan meski ga baik-baik aja dan ga pernah ada penyelesaian dengan dalih kasian anak anak.
SUCH A FU*KING BULSHIT!!!
Mereka justru lebih menderita njing liat kalian ribut-ribut mele dirumah
Ga perlu lah sok sokan bilang kasian anak kalo kalian pun ga tau posisi dan perasaan mereka sendiri. Atau aku juga paling kesel kalo ada ibu yang sok-sokan bilang ikatan batin sama anak. Fu*k off tau, karena kurasa mamaku dan aku sendiri ga pernah ada ikatan batin. Mungkin ada yang punya, tapi kurasa itu cuma berlaku buat ibu yang bener cinta sama anaknya, bukan yang cuma pepesan kosong dan drama doang. Karena ibarat sinetron, isinya akting doang.

Seperti dipostinganku sebelumnya, aku punya satu adik laki-laki. Tapi memang ya cewe sama cowo itu beda. Adikku bisa loh dengan santainya bodo amat sama toxicnya mama, tapi aku ga bisa. Sumpah udah kutahan pun ga bisa karena kupikir kalau ga aku yang speak up terus siapa?

Di postingan ini aku bakal ceritain semua uneg-unegku. Maaf ini bukannya drama, tapi kuharap semua yang baca bisa belajar banyak dari tulisanku ini. Buat yang feel the same, congratulation because you are not alone. Feel free to contact me personally!!! Happy to know you.

Buat yang nanya, kenapa ga cari pacar? Kupikir pacar itu partner ya dan dia pun punya masalah sendiri. Kurasa semua orang didunia selalu punya masalah sendiri dan bener ga bijak kalau kita ngebebanin orang lain untuk ikut mikirin masalah kita pribadi meski dia pacar kita selama kita belum berumah tangga.

Lalu mungkin ada yang juga komen, kalo gitu kenapa ga cepetan nikah aja dan pergi dari rumah?
Gezz, lu pikir kalo udah keluar dari rumah terus masalah kelar? Nikah itu enak malem doang, paginya lu malah musmet cong!!! Memang belum ada pengalaman nikah, tapi jujur bertahun tahun ini aku banyak belajar dari janda duda yang pernikahannya gagal, ada yang simpenan orang singapore sampe ada yang pernikahannya full of fake serta juga pengalaman hidup dari drama keluarga lempar lemparan barang sepanjang masa kecilku.

Papaku mungkin bukan orang yang sempurna, memang ga ada orang yang sempurna. Tapi mama pernah bilang karena ulah papa dia jadi bertingkah macam macam. Yep Mamaku memang hobi selingkuh dari jaman ku masih bocah yang ga bisa komplain apa-apa. Cuma ya maaf, sekarang umurku sudah 27 tahun lewat jadi sudah saatnya diriku speak out kalau ada yang ga bener, apalagi juga aku anak tertua.

Memang status mamaku janda, wajar kalo deketin laki-laki lain. Tapi dengan catatan kalau si laki-laki ini juga duda/single, bukan masih punya istri kan? Apalagi mamaku justru lebih bela selingkuhannya ini daripada anaknya sendiri

Tapi kelakuan toxic mama ku ini dari dulu memang ga ilang-ilang dan malah yang sekarang makin parah dan buat bener tekanan batin dan akhirnya kuingat ini blog dan mutusin mending aku buat karya daripada galau.

Akibat dari mamaku yang toxic, drama queen, full of fake dan gemar cerita gimana dia sayangnya sama anak-anaknya dan gimana kurang ajarnya diriku ke semua orang, jujur itu yang buat diriku trust issue dan merasa aku ga punya siapapun yang bisa kupercayain di dunia ini. Kasih sayang pun engga. Dulu ada papa, sekarang? Tapi memang kita lahir sendiri dan sudah tanggung jawab kita untuk mandiri.

Tapi jujur memang sangat nyesek, serba salah ya. Jujur kalau aku memang ga sayang orang tua ya mending aku masih merantau, bodo amat mak gua mau jungkir jempalit sendiri. Tapi kok udah ditekatin pulang, ternyata sama aja :'(. Aku jadi heran, buat apa mamaku rajin ibadah, rajin doa kalo kelakuan masih sama? Diriku pribadi sih lebih baik kita bejad sekalian daripada ibadah tapi cuma buat kedok :(. Ya meski keduanya ga ada yang baik sih.

Aku ga tau ya, apa yang mamaku liat dari selingkuhannya kali ini. Jelek iya, botak iya, ompong iya, kerdil iya, pelit juga super.
Logika deh, punya deposito 2m dan 12rumah, tapi kok masih pake motor rev* butut dan bajunya kaya baju bekas ya?
Ini aku bukannya nuduh ya selingkuh, tapi karena aku sering ngegapin sendiri gimana ini nenek-nenek dan kakek ini udah kaya abg aja vcalan segala, whatsappan sampe telpon telponan tengah malam. Bahkan dia kalo kerumah bisa datang jam 10malem sampe semua tetangga dan satpam pada tau. Kebayang ga gimana perasaanku sebagai anak?? Hancur, malu dan denial itu pasti dan wajar.

Noh yang mau liat selingkuhan mak gua, itu dr kamera cctv dari resto ku. Jujur aku ga nyangka sih, tega teganya mamaku masih mau berhubungan sama itu orang padahal udah 3x kuminta jangan cari masalah hubungin si blekutak sontong itu lagi.


Jadi, ribut pertama jujur aku ga terima pas mergokin mamaku telpon telponan pas tengah malam sama ini setan, karena sebelumnya juga habis vcal pas si setan ini lagi di hotel di mekkah. Anjing banget kan, lagi umroh tapi masih selingkuh. GILAKKK!!! Dan sungguh ga nyaman tau, mamaku dengan santainya nunjukin aku lagi ngapain segala macem ke itu setan, dan it happens almost everytime i know :'(
Kubilang, mama ada hubungan apa si sama si agus? jangan dikira saya masih kecil ga tau apa apa?

Dan mamaku malah jawab?
Kalo suruh milih, mama tetep milih agus karena dia malaikat dan kamu apa? pas rumah kebanjiran dan papamu meninggal aja kamu malah balik ke batam? 

Dan mamaku tetep denial sama selingkuhannya dan berdalih dia kenal baik dengan istrinya dan cuma teman. Haduh, padahal aku udah amatin dari jauh waktu.

Bahkan aku mau telepon selingkuhannya, mau ngomong baik baik aja ga boleh dan malah diriku yang diserang

Beneran pas itu aku kelepasan, my fault but i don't know what supposed to do. I slapt my mom perfectly on her cheek. Mama, dari jaman papa hidup aja aku tau dan pergokin udah selingkuh sama orang, papa diem aja. Kali ini paling parah karena ngganggu rumah tangga orang meski mereka will never do sex karena udah turun mesin juga mamaku. Tapi tetap itu selingkuh :(

Mamaku langsung tampar aku balik dan berulang ulang seperti kesetanan. Ya memang mamaku anaknya orang gila, nenek ku gila, tante ku juga gila. Tapi untungnya aku masih waras so far. Ya ga ada sih orang yang mau ditakdirkan gila, makanya aku ga malu ceritain itu disini. Bukan aib, karena pelajaran hidup itu ga melulu cerita indah bak dongeng.

Atas kejadian itu, mamaku langsung dong cerita kesemua orang gimana durhakanya aku dan ini itu seolah aku udah gila tetiba nampar mamaku. Dan ceritain gimana denialnya diriku dari jaman masih bocah juga. Yep sebenarnya itu selalu kejadian dari jaman masih balita kayanya. Aku sampe udah mati rasa gimana rasanya selalu dipandang jelek sama anggota keluarga besar karena bullshit omongan mamaku sendiri, gimana aku direndahkan orang lain yang cuma dengar dan kemakan omongan sepihak tanpa tau sebenarnya gimana.

Sebenarnya aku pengen teriak
JANGAN BERTINGKAH SEPERTI KALIAN TAU SEMUANYA LANGSUNG PADAHAL KALIAN CUMA DENGAR DARI SEPIHAK

AKU HARAP AKU SEKALIAN YATIM PIATU DARIPADA SECARA BIOLOGIS MASIH PUNYA ORANG TUA TAPI LEBIH COCOK DISEBUT PENGKHIANAT

Jujur karena pengalamanku punya orang tua toxic, aku jadi berpikir ulang 
Apa benar ucapan ibu adalah doa paling mujarab?
Apa benar surga benar ada di telapak kaki ibu?
Apa benar Tuhan masih mau mengabulkan doa ibu kalau kejadian begini?

I wish I never born, but if right now I still here.
I know I still fight
Hidup ini adalah jalan cerita kita masing masing dan harus kita tempuh

-BERSAMBUNG KE PART 2, MAU BOBOK DULU UDAH JAM 2PAGI-