Yep, inilah yang kualami. Kadang iri kalau lihat orang lain yang memiliki ibu yang support. Tapi justru sering kudengar kalo mamaku yang sok sokan merasa dirinya orang paling malang sedunia karena ga bisa dekat dengan anak sendiri. Kadang juga pengen kujawab, "Ngaca Bu".
Orang lain yang kenal pasti pikirnya, Yossi enak ya mamanya sayang, mau ngemodalin, inilah itulah. Padahal mereka ga tau gimana struggle nya aku sendiri. Atau banyak juga yang berpikir, ah enak banget jadi dirimu, duit ada dan apa apa siap. Kenapa sih ga mau nurut aja sama mama mu? Padahal mereka ga tau gimana tekanan batin diriku. Terkadang aku iri sama orang yang merasa masalah terberatnya itu cuma masalah duit. Karena uang bisa dicari, tapi masalah trust issue, comfort zone dan masalah kepercayaan diri kalau sudah hilang, mau kamu punya duit ga abis abis 7 sampe 7000 turunan sekalipun juga ga akan selesai.
Kurang lebih kesepuluh cara tersebut yang udah kucoba lakukan. Meski aku ga bilang semuanya sukses. Dan akhirnya masih terjebak di lingkaran setan ini lagi setelah aku mencoba excuse dan pulang dengan alasan mau peduli dengan my toxic mom. Hati ini kadang capek loh urusin hidup. Karena memang bener bener makan hati πTapi ya harus dijalani karena sudah pilihanku sambil berdoa kapan hal ini selesai, meski mungkin selesai dengan hal terburuk, jadi anak yatim piatu.
Teman-temanku pasti banyak yang kira begitu enaknya hidupku, kerjaannya mbolang. Tapi kok sukanya mbolang sendiri? Itu karena mereka ga akan pernah tau kalau aku mbolang sebagai pelarian dan obat. Kenapa? Karena setiap mbolang aku ketemu hal baru, ketemu orang baru yang mungkin bisa lebih malang dari nasibku dan itulah yang membuatku termotivasi untuk bangkit dari keterpurukan kalau sudah benar-benar ngerasa down.
Memang dalam hidup, kehidupan ini tidak pernah adil, Tapi Tuhan selalu adil. Sama seperti, mau bagaimanapun terlihat sempurnanya hidup seseorang, tetapi setiap orang selalu punya masalah. Banyak orang yang tanya, kok suka ya mbolang sendiri? Bahkan mamaku suka nanya kenapa ga pernah mau liburan bareng? Sebenarnya pengen jawab if I'm quit and please count me out. Gimana mau menikmati liburan kalau situasi nya ga bagus dan buat tertekan?
Sumber : Google
Itu tanda-tanda toxic mom dan banyak diantaranya yang kualami. Jujur karena telat kenal dunia luar, aku akui selama masa kuliah pun aku kesulitan bergaul karena terlalu terkekang sebelumnya. Rasanya mau bergaul pun sulit sekali dan banyak rasa tidak nyaman karenanya. Jadi kalau kalian punya teman yang susah, selama susahnya dia lebih ke saklek, punya kemauan keras, selama ga mencuri atau fitnah, bisa jadi itu karena lingkungan keluarganya toxic.
Sumber : Tirto.id
Secara gamblang sebenarnya di rumah, entah udah beribu kali mama selalu bandingin diriku sama adik ku sendiri. Ya mungkin karena anak laki-laki lebih cuek dan bodo amat, tapi anak perempuan itu berbeda. Sering kok adik ku itu curhat gimana keselnya dia, tapi memang dasar laki-laki itu lebih gampang bersikap bodo amat. Sedangkan diriku memang sudah ditakdirkan bersikap kritis. Jadi dianggapnya diriku anak pembangkang dan arogan. Padahal, bisa kalian nilai sendiri kalau kalian dengar dari dua sisi.
Tapi dari pengalamanku, cukup banyak merubah diriku untuk dengar cerita dari dua sisi terlebih dahulu baru mengambil kesimpulan. Kecuali kalau ketangkep basah setelah pengamatan beberapa waktu lamanya. Ya ibarat hikmah dibesarkan di lingkungan toxic. Sebenarnya bukan hikmah juga sih, cuma berusaha menghibur diri aja sebenarnya π.
Aku memang ga pernah nikah ataupun jadi orang tua, tapi kalau boleh saran saya mau kasih masukan untuk parents wanna be atau spouse wanna be diluar sana. Pastikan kalian benar benar siap mental dan sikap sebelum memutuskan untuk punya anak. Persetan sama omongan orang, mohon kalian pikirkan lagi jangka panjang. Punya anak itu tanggung jawab seumur hidup dan amanat dari Tuhan. Tolong jangan korbankan anak cuma buat menyenangkan dirimu dan orang tuamu doang yang pengin nimang cucu. Kalau mau nimang bayi? Banyak noh diluaran bayi yang terlantar dan butuh dirawat. Kalau dari yang kualami, jujur mamaku maksa aku cepet nikah, punya anak dan mamaku cepet nimang cucu tapi aku ga lakuin itu kenapa? Dipikir punya anak itu sama kaya punya boneka?
Beneran karena sepanjang hidup sampe sekarang, banyak ketemu hal ga enak tentang kehidupan setelah nikah, belum masalah konflik sama mertua, masalah lagi kalau ternyata mandul. Aku pun takut kalo harus berumah tangga. Belum Siap. Tapi kalau lingkungan keluarga toxic sih mana peduli? Mereka cuma mau nya mereka jangan sampe diomongin orang lain doang. Udah, concern mereka cuma itu. Padahal kehidupan setelah menikah justru lebih mengkhawatirkan dan penuh tantangan. Jangan liat enak nya kehidupan pernikahan di instagram yang indah indah. Kalian ga pernah akan temuin banyak kejadian miris di instagram, karena memang udah kodratnya instagram itu cuma tempat pamer doang. Percaya, kalo kalian memang ditakdirkan tumbuh dalam lingkungan toxic apalagi punya orang tua toxic, mending kalian belajar dulu sampai bisa benar benar memastikan kondisi sudah kondusif sebelum memutuskan punya anak kalau kalian benar-benar mau memutuskan rantai toxic cuma sampai kalian aja.
Yang kualami, mencoba berdamai dengan lingkungan toxic itu benar-benar pergumulan besar sampai detik ini. Gimana bersikap bodo amat dan hanya berusaha untuk selfcare itu ga segampang tulisan di instagram yang seliweran. Kadang dalam hati udah tekad tapi kenyataannya gatot, sudah biasa. Memang sih keluarga toxic udah jelek dampaknya, terus gimana kalau toxic mom? Ya seperti diriku ini lah kurang lebih. Makan hati tiap hari, kesepian, butuh kasih sayang dan susah banget kalau mau benar-benar percaya sama orang karena jujur sampai sekarang masih dihantui rasa takut untuk dikecewakam lagi karena mama sendiri aja rajin mengecewakan dengan selalu play victim ke orang orang tanpa sebab dan orang lain mendukung untuk ikut menjudge. This is so that scary and this is true. Mau nangis pun rasanya air mata udah kering, karena udah terlalu lama.
Kalau sharing pas pertemuan gereja, mereka cuma saranin doa, terus doa terus doa, sampe kiamat pun doa. Itu ga salah, tapi ingin juga kutanya balik, memang doa itu salah satu jawabannya, tapi apa kalian akan berlaku sama kalau diposisiku? Terkadang gampang untuk memberi saran tanpa empati. Atau yang cuma jawab sabar, sabar dan sabar. Ya emang aku kurang sabar apa lagi? Masih melanjutkan hidup aja itu udah bentuk kesabaran yang hakiki loh. Karena kalau sudah ga sabar, mungkin aku udah ga ada lagi di dunia ini. Tau kan kasus kena banyak public figure yang bunuh diri? Sudah pelajarin kenapa mereka bunuh diri? Rata-rata mereka melakukan hal itu karena mereka ga kuat sama keadaan dan lingkungan.
Kadang aku kepikiran sama omongan mamaku yang selalu direpitisi
Dosa apa aku, punya anak kok ga ada hormatnya sama orang tua?
Ingin kujawab
"Nggak Mau Ngaca?"
Jujur berkali kali aku kelepasan suka pukul mantan-mantanku pas masih jadi pacar, itu karena memang dari kecil bentuk kekerasan fisik udah jadi makanan sehari-hari dari mamaku. Ya dipukul, dicubit, di kurung di wc sampe disiram air dingin tengah malam juga sering. Masalahnya? Nilai pelajaran turun, ga sesuai ekspektasi mama yang harus aku nilai tinggi sampe akhirnya aku merasa ga berguna dan punya ketakutan sendiri kalau dapat nilai jelek. Beda sama adikku yang dari kecil ga pernah tau rasanya dipukul cuma karena nilai turun 1 poin atau dikurung di wc sambil diguyur air dingin cuma karena sempat ada satu pelajaran yang nilainya hancur? Jadinya memang beda. Adikku lebih santai, ga punya beban hidup dan perasaan denial dan takut dengan dunia luar meski dia pun tetap pusing juga punya orang tua toxic. Cuma dia sih lebih woles.
Papaku dulu, memang tipe papa yang sayang banget sama anak-anaknya. Tapi papa kalah power sama mama. Itu yang ngebuat mama ku yang toxic begitu dominan buat menyiksa anak. Tapi jujur waktu papa masih hidup, papa masih bisa sedikit jadi barrier dari bar-barnya mama. Cuma memang tidak sempurna. Sekarang papa sudah ga ada, berasa banget gimana hancurnya hati ku kalau tiap ribut sama mama dan difitnah macam-macam kedepan semua orang dan tidak ada yang peduli.
Secara ga sadar karena cerminan dari keluarga, aku pun dulu selalu cari pacar yang bisa nurut kaya papa dan gampang banget buat main fisik dan ga bisa menghargai pacar. Kupikir dulu apa yang kulakukan itu normal karena itulah potret yang digambarkan dari mama papaku. Aku sempat bingung kenapa papa selalu ga setuju kalau aku kenalin mantan mantanku dulu dan malah justru papa suruh aku cari pacar yang bisa mengayomi dan bukan asal nurut aja. Memang seserem itu guys, makanya kalau buat yang berniat atau sudah punya anak. Ingat, anak kalian berlaku itu adalah cerminan yang kalian tunjukkan ke mereka. Orang tua dianggap adalah contoh gimana mereka harus berlaku kepada masyarakat.
SHE SAID SHE USUALLY DO EXTREMELY UNLOVING THINGS IN THE NAME OF LOVE EVEN ACTUALLY SHE DOESN'T BUT SHE WILL NEVER KNOW WHAT THE DAMAGE OR HOW GREAT THE DAMAGE FOR HER CHILDREN AND NEVER WANT TO KNOW BECAUSE SHE THINKS ALL SHE ASK ARE THE BEST FOR HER CHILDREN
-Bersambung ke Part 4-









